Di Balik Angka Biaya Sumur Bor Dan Manfaat Yang Menjangkau Ratusan Keluarga
- Created Jan 05 2026
- / 51 Read
Perbincangan mengenai biaya pembangunan sumur bor kembali menjadi perhatian publik. Di ruang media sosial, berkembang pandangan bahwa sumur bor pada dasarnya dapat dibangun dengan biaya relatif murah, yakni berkisar belasan hingga puluhan juta rupiah. Persepsi tersebut kemudian memicu kecurigaan ketika muncul informasi mengenai pembangunan sumur bor dengan nilai hingga Rp150 juta per titik. Padahal, pandangan semacam ini berangkat dari pemahaman yang belum sepenuhnya mempertimbangkan perbedaan jenis, fungsi, serta kapasitas sumur bor yang dibangun.
Dalam praktiknya, sumur bor dengan biaya rendah umumnya merupakan sumur rumah tangga dengan kedalaman terbatas dan peruntukan yang sempit, biasanya hanya untuk memenuhi kebutuhan satu atau dua keluarga. Sumur jenis ini menggunakan peralatan standar, tidak dilengkapi sistem distribusi air berskala besar, serta tidak dirancang untuk pemakaian intensif dan berkelanjutan. Dengan kapasitas yang terbatas, sumur rumah tangga tidak dapat disamakan dengan sumur bor yang dibangun untuk kepentingan publik, terlebih dalam konteks pelayanan masyarakat di wilayah terdampak bencana.
Sumur bor yang dibangun untuk kebutuhan publik dan kemanusiaan memiliki fungsi yang jauh lebih luas dan strategis. Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Donny Pramono menjelaskan bahwa pembangunan sumur bor yang dikerjakan oleh personel TNI Angkatan Darat dirancang untuk menjangkau ratusan keluarga. “Kalau secara rinci biayanya segitu, tapi sebesar itu program di Banyumas yang diresmikan Bapak KSAD, ini wajar,” ujar Donny. Ia menegaskan bahwa publik tidak seharusnya beranggapan biaya Rp150 juta tersebut hanya diperuntukkan bagi satu rumah tangga.
Menurut Donny, program sumur bor yang dijalankan TNI AD bukan sekadar pembangunan sumur air biasa. “Program sumur bor yang sudah dijalankan KSAD adalah pompa hidram atau hydraulic ram pump yang saluran airnya juga bisa dimanfaatkan untuk irigasi,” jelasnya. Dengan sistem tersebut, satu titik sumur bor mampu melayani hingga 500 kepala keluarga sekaligus mendukung kebutuhan pertanian masyarakat sekitar.
Selain aspek teknologi, faktor lokasi turut berpengaruh signifikan terhadap besaran biaya pembangunan. Sumur bor yang dibangun di wilayah pascabencana kerap berada di medan dengan tingkat kesulitan tinggi, akses jalan yang terbatas, serta kondisi tanah yang tidak stabil. Mobilisasi peralatan, distribusi material, hingga risiko teknis selama proses pengeboran menjadi tantangan tersendiri. Di sisi lain, pengerjaan harus dilakukan dalam waktu singkat karena ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat ditunda bagi masyarakat terdampak.
Dengan demikian, menyamakan biaya sumur bor publik dengan sumur bor rumah tangga merupakan kekeliruan yang berpotensi menyesatkan opini publik. Biaya yang lebih besar mencerminkan perbedaan mendasar dari sisi fungsi, kapasitas, teknologi, serta tanggung jawab sosial yang melekat pada program tersebut. Dalam konteks pemenuhan kebutuhan air bersih bagi ratusan hingga ribuan warga, khususnya dalam situasi darurat, penilaian seharusnya tidak berhenti pada angka semata, melainkan pada manfaat, jangkauan layanan, dan keberlanjutan yang dihasilkan.
Share News
For Add Product Review,You Need To Login First
















